Jelang Galungan harga cabe menembus Rp 75 ribu per kilogram bikin pembeli maupun pedagang sama-sama tidak happy

Harga cabe yang melonjak sejak beberapa waktu belakangan ini, bukan saja menyebabkan pengeng alias pusing ibu-ibu rumah tangga, tetapi sekaligus pebisnis cabe. Alasannya, harga yang ketinggian tersebut berimbas pada omset dan kemampuan mereka melayani konsumen.

“Aduh harga cabe sekarang tinggi,” ujar  Luh Santi, seorang pedagang di sela-sela pelaksanaan bazar dan pasar murah barang kebutuhan pokok yang digelar Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Minggu (14/7).

Sambil sibuk melayani pembeli, Santi menuturkan harga cabe yang melonjak, membuat  banyak pembeli melongo, kaget. Karenanya, Santi harus menjelaskan penyebab kenaikan harga cabe belakangan ini. Di antaranya karena pasokan cabe berkurang dari sentra-sentra ‘percabean’ di Bali.  “Nggih agak seret mangkin (sekarang),” ujarnya. Kata Santi, salah satu pemasok cabe adalah kawasan atau sentra perkebunan hortikultura kawasan Baturiti, Tabanan.

Meski harga cabe ‘pedas’, namun animo masyarakat terhadap cabe tak surut. “Karena kebutuhan sehari-hari, untuk bumbu,” lontar Nyoman Obi, seorang pengunjung bazar.

Dia was-was harga  bumbu dapur, terutama cabe semakin membumbung jelang hari raya Galungan. “Karena itu tiyang beli sedikit-sedikit, sehingga cukup untuk Galungan,”   ujarnya.

Dari pantauan ada 10 komoditi yang dipersiapkan pada bazar dan pasar murah dar Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali. Ke-10 komoditi tersebut, beras premiun, beras medium, minyak goreng, gula pasir, bawang merah dan bawang putih. Disusul cabe rawit, cabe keriting, daging ayam dan telur. Tambahannya, buah (jeruk), ikan pindang dan produk obat-obatan berbahan baku tanaman (herbal).

Kabid Ketersediaan Dinas Ketahanan Pangan I Made Tresna Kumara, menyatakan bazar dan pasar murah yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, khusus terkait hari besar keagamaan. “Kita ada 10 kali dalam setahun untuk hari besar keagamaan nasional (BKN),” ujar Tresna Kumara ditemani Kabid Distribusi dan Cadangan I Nyoman Suarta. Hari besar keagamaan tersebut diantaranya Galungan-Kuningan, Nyepi, Lebaran, Natal dan lainnya. “Untuk yang sekarang ini (Minggu, 14/7) adalah yang kelima kali,” ujarnya. Tujuannya membantu menyediakan bahan pangan  pokok, dengan harga yang lebih murah.

Pasar murah diikuti 17 pelaku usaha, sebagian besar UKM dan beberapa usaha besar/swasta. Namun semua merupakan binaan dari dinas/stakeholder terkait. Seperti Dinas Peternakan, Ketahanan Pangan, Dinas Tanaman Pangan Hortikulra dan Perkebunan, Dinas Kelautan, PKK Provinsi  juga ada Bulog.

Kabid Distribusi dan Cadangan I Nyoman Suarta, menambahkan ada 10 komoditi bahan pangan utama yang disediakan.  Ke-10 item tersebut mendapat subsidi ongkos transportasi dari produsen sampai ke konsumen atau pasar. Karena itulah harganya jadi lebih murah. “Rantai distribusinya yang dipangkas, diperpendek,” ujar Suarta.

Di antaranya cabe mendapat subsidi Rp 150 per kilogram, sehingga harga cabe di pasar murah jauh di bawah harga pasaran. Jika harga di pasaran mencapai Rp 70 ribu sampai Rp 75 ribu per kilogram, di pasar murah kemarin harganya Rp 40 ribu perkilogram.  

Untuk bawang merah, harga di pasaran Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per kilogram. Untuk di pasar murah harganya Rp 23 ribu sampai Rp 24 ribu  perkilogram. “Itu diatur Permendag (Peraturan Menteri Perdagangan),”  kata Suarta. Besaran subsidi tersebut berbeda-beda, menurut jenis komoditi dan lokasinya. (Berita dikutip dari Harian Nusa Bali)